Pertapa Muda dan Kepiting  

Posted by Cahaya Kebijaksanaan

Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, tampak seorang pertapa muda

sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang
berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah
kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan. Perlahan-
lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke arah tepi
sungai di mana sumber suara tadi berasal. Ternyata, di sana tampak seekor
kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya
untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang
deras. Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu,ia segera
mengulurkan tangannya ke arah kepiting untukmembantunya. Melihat tangan
terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya
terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa
menyelamatkan si kepiting. Kemudian, dia pun melanjutkan kembali
pertapaannya. Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi
bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi
mengalami kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan
tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya.
Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi.
Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin
membengkak karena jepitan capit kepiting. Melihat kejadian itu, ada seorang
tua yang kemudian datang menghampiri dan menegur si pertapa muda, "Anak
muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik.Tetapi,
mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting
melukaimu hingga sobek seperti itu? " " Paman, seekor kepiting memang
menggunakan capitnya untuk memegang benda. Dan saya sedang melatih
mengembangkan rasa belas kasih. Maka, saya tidak mempermasalahkan jari
tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa makhluk lain,
walaupun itu hanya seekor kepiting, " jawab si pertapa
muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan
baik. Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orangtua itu memungut
sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat
kembali melawan arus sungai.Segera, si kepiting menangkap ranting itu
dengan capitnya." Lihat Anak Muda. Melatih mengembangkan sikap belas
kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengankebijaksanaan. Bila
tujuan kita baik, yakni untuk menolong makhluk lain, bukankah tidak harus
dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan,
betul kan? "Seketika itu, si pemuda tersadar. " Terimakasih, Paman. Hari ini
saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan
kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang
Paman ajarkan.

Lukisan untuk Sang Raja  

Posted by Cahaya Kebijaksanaan

Ada seorang raja yang mata kanannya buta dan kaki kirinya pincang. Pada suatu hari dia memanggil pelukis untuk melukis dirinya. Seorang pelukis melukis raja seperti seorang pejuang yang hebat. Matanya bercahaya dan bersinar dan kakinya berotot seperti atlet. Raja tidak senang dengan karyanya.
"Kamu pembohong. Itu bukan saya." Dia memerintahkan para tentaranya untuk menangkap pelukis ini dan melemparkan ke penjara.

Pelukis kedua dipanggil. Setelah mengetahui apa yang telah terjadi sebelumnya, pelukis ini melukis sang raja sama persis seperti apa adanya. Raja juga tidak senang.
"Seni macam apa ini?" dia bertanya kepada pelukis ini dengan marahnya dan mengirimkan dia ke penjara juga.

Pelukis yang ketiga datang dan melihat raja dengan seksama. Dalam lukisannya, raja digambarkan sedang mengenakan pakaian berburu. Dia sedang menembak dengan posisi berlutut, kaki kanannya ditekuk dan kaki kirinya menopang pangkal senapan yang sedang dipegangnya. Hanya mata kirinya yang terbuka, karena ia sedang membidik seekor serigala di kejauhan.

Raja sangat puas. Dia menghargai pelukis ini sekantong emas dan memujinya sebagai pelukis yang terbaik di negaranya.

Penjual Perisai dan Tombak yang Sombong  

Posted by Cahaya Kebijaksanaan

Seorang pria menjual perisai dan tombak di pasar. "Perisaiku adalah yang paling kuat di dunia" Katanya kepada pelanggannya. "Tidak ada tombak yang mampu menembusnya."
Kemudian dia mengangkat sebuah tombak. "Tombakku sangat tajam dan mampu memotong apa pun," katanya.
"Bagaimana jika kamu menggunakan tombakmu untuk melawan perisaimu?" tanya seorang pelanggan.
Orang itu tidak tahu harus berkata apa, dan semua orang di situ menertawainya.

Kasih yang Menggugah  

Posted by Cahaya Kebijaksanaan

Ini adalah cerita seorang ibu yang akan menyelesaikan skripsinya.This is really a good story....
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.
Sang Dosen sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikannya diberi nama "Tersenyum". Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka. Saya adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang dan mengatakan "hello", jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tsb, suami saya, anak bungsu saya, dan saya pergi ke restoran McDonald's pada suatu pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering. Ini adalah salah satu cara kami dalam antrian, menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap orang di sekitar kami mulai menyingkir, dan bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir.
Saya tidak bergerak sama sekali... suatu perasaan panik menguasai diri saya ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir.

Ketika berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang sangat menyengat, dan berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma.
Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang lebih pendek, yang dekat dengan saya, ia sedang "tersenyum". Matanya yang biru langit indah penuh dengan cahaya
Tuhan ketika ia minta untuk dapat diterima. Ia berkata "Good day" sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri di belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka.

Wanita muda di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia berkata, "Kopi saja, Nona" karena hanya itulah yang mampu mereka beli.
(Jika mereka ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh mereka, mereka harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan).
Kemudian saya benar-benar merasakannya - desakan itu sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Hal itu
terjadi bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya.

Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter untuk memberikan saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan
melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu ke atas meja dan meletakkan tangan saya di atas tangan dingin lelaki bemata biru itu.

Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan berkata "Terima kasih."
Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan berkata, "Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan."

Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk suami saya tersenyum kepada saya dan berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan." Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu kami tahu bahwa hanya karena Kasih Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami berikan untuk orang lain.

Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah.
Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini ditangan saya. Saya menyerahkan "proyek" saya dan dosen saya membacanya.
Kemudian ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?" Saya mengangguk pelahan dan ia kemudian meminta perhatian dari kelas. Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan. .

Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai saya untuk menyentuh orang-orang yg ada diMcDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri
ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi..
Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari: PENERIMAAN YANG TAK BERSYARAT.

Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan mempelajari bagaimana untuk MENCINTAI SESAMA DAN
MEMANFAATKAN BENDA-BENDA BUKANNYA MENCINTAI BENDA DAN MEMANFAATKAN SESAMA.

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh anda dengan cara apapun, tolong kirimkan cerita ini kepada setiap orang yang anda kenal.
Disini ada seorang malaikat yang dikirimkan untuk mengawasi anda.
Supaya malaikat itu bisa bekerja, anda harus menyampaikan cerita ini pada orang-orang yang ingin anda awasi. Seorang malaikat menulis:
Banyak orang akan datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya sahabat2 sejati yang akan meninggalkan jejak di dalam hatimu. Untuk menangani dirimu, gunakan kepalamu. Tetapi untuk menangani orang lain, gunakan hatimu.

Tuhan memberikan kepada setiap burung makanan mereka, tetapi Ia tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka.
Ia yang kehilangan uang, kehilangan banyak; Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih banyak;tetapi ia yang kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya.
Orang-orang muda yang cantik adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang cantik adalah hasil karya seni.
Belajarlah dari kesalahan orang lain. Engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk mendapatkan semua itu dari dirimu sendiri.

Kebajikan Bagai Sebatang Pohon  

Posted by Cahaya Kebijaksanaan

Di sebuah desa, di dataran Liaodong – Tiongkok ada sebuah kisah turun temurun yang sangat menyentuh hati. Alkisah, pada pinggiran desa terdapat sebuah gubuk tua dan reot, yang ditinggali oleh seorang ibu berusia paruh baya. Penduduk sekitar hanya tahu ibu itu bermarga Zhang dan tidak ada seorang pun yang tahu nama sebenarnya. Ibu itu mengandalkan hidupnya dengan mengumpulkan barang-barang bekas.
Suatu ketika, pada masa terjadi tiga tahun bencana alam, saat ibu tua itu sedang mengumpulkan barang-barang bekas di dekat sebuah rumah sakit, ia mendengar suara tangisan bayi yang terbuang. Bayi itu lalu digendong dan dibawa pulang ke gubuk tuanya. Selama tiga tahun bencana alam itu, ada empat bayi buangan yang ditemukannya.
Demi menghidupi ke empat bayi tersebut, si ibu tua itu terpaksa mengais sisa-sisa makanan di tong-tong sampah, dan mencari yang masih bisa dimakan. Setelah menemukannya, ibu tua itu akan memamahnya sampai lembut dulu baru disuapkan kepada bayi-bayi tersebut. Orang tua para bayi itu, ada yang merasa tidak sanggup untuk membesarkannya, ada pula yang lahir di luar nikah, meskipun demikian mereka tidak seharusnya terlahir sebagai anak yang terbuang. Sebenarnya ibu tua itu sendiri pun hidupnya sudah sangat sengsara, akan tetapi anehnya, dengan kemukjizatan, dia telah dapat membesarkan keempat bayi tersebut.
Dua puluh tahun kemudian, tiga anaknya telah lulus ujian dan masuk Universitas. Sedangkan satunya lagi masuk sekolah angkatan dan menjadi perwira. Ke empat anak tersebut akhirnya menetap, berkeluarga dan bekerja di kota. Kemudian anak-anaknya membawa ibu tua itu untuk pindah ke kota, dan mereka saling berebut ingin merawat ibu tua itu. Setelah ibu tua itu meninggal, rumah gubuknya yang tua dan reot itu meskipun kalau didorong dengan satu tangan saja sudah roboh, akan tetapi bagi penduduk sekitar sana, rumah itu memiliki arti tertentu. Penduduk setempat memagari rumah tua itu dengan menggunakan bambu, dan membangun sebuah pintu besar di mana di atas pintu itu tergantung sebuah papan bertuliskan “Pondok Kebajikan”, sedang di halaman depan rumah itu ditanam sejumlah pohon, orang orang menyebutnya sebagai “Pohon Kebajikan”
Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, Prinsip “keuntungan adalah di atas segalanya” telah menjadi motto dari kebanyakan masyarakat. Nilai-nilai kebajikan sedikit demi sedikit terkikis, hilang terbuang. Di dalam pergaulan antar manusia adanya rasa kecurigaan semakin meningkat, sedang kebajikan menjadi semakin berkurang. Cerita di atas telah menggambarkan seorang ibu tua yang nama saja tidak dikenal orang, dan dalam mengatasi kehidupannya sendiri pun sangat sulit, tetapi dari hasil dengan mengumpulkan barang-barang bekas telah membesarkan keempat anaknya yang berbakat baik. Si ibu tua ini dengan penuh belas kasih telah memelihara sifat murni manusia.
Mengenai hal terkikisnya kebajikan, ini merupakan suatu hal yang tidak baik yang terjadi selama proses perkembangan masyarakat. Kebajikan adalah prinsip yang tidak membawa kepentingan apapun. Ini merupakan sifat dasar manusia, adalah betul-betul lurus dan murni. Ada pepatah yang menyebutkan “Kebaikan budi bagai setetes air yang akan dibalas dengan sumber air”. Kebajikan akan mendapat balasan kebajikan pula, ibu tua di pedesaan itu adalah sebuah contoh yang konkrit.
Kebajikan bagaikan sebuah pohon ; sebuah pohon yang hijau abadi. (The Epoch Times/kia)

Kisah si Tukang Ledeng  

Posted by Cahaya Kebijaksanaan

Suatu hari bos MercedezBenz mempunyai masalah dengan kran air dirumahnya.
Kran itu selalu bocor hingga dia kawatir anaknya terpeleset jatuh.
Atas rekomendasi seorang temannya, Mr. Benz menelpon seorang tukang ledeng untuk memperbaiki kran miliknya.
Perjanjian perbaikan ditentukan 2 hari kemudian karena situkang ledeng rupanya cukup sibuk. Si tukang ledeng sama sekali tidak tahu bahwa si penelpon adalah bos pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman.
Satu hari setelah ditelpon Mr.Benz, pak tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk menyampaikan terima kasih karena sudah bersedia menunggu satu hari lagi. Bos Mercy-pun kagum atas pelayanan dan cara berbicara pak tukang ledeng.
Pada hari yang telah disepakati, si tukang ledeng datang ke rumah Mr.Benz untuk memperbaiki kran yang bocor. Setelah kutak sana kutak sini, kranpun selesai diperbaiki dan pak tukang ledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya .
Sekitar 2 minggu setelah hari itu, si tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk menanyakan apakah kran yang diperbaiki sudah benar-benar beres atau masih timbul masalah?
Mr. Benz berpikir pasti orang ini orang hebat walaupun cuma tukang ledeng . Mr. Benz menjawab ditelepon bahwa kran dirumahnya sudah benar-benar beres dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan pak tukang ledeng.
Tahukah anda bahwa beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya? Ya , namanya Christopher L. Jr. Saat ini beliau adalah General manager Customer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz! “
Moral dari cerita ini adalah:
Service Excellent adalah mengenai bagaimana anda bertanggung jawab terhadap “Customer Peace of Mind” sehingga tercipta hubungan kerja beralaskan ” Mutual Trust/Kerpercayaan Berkesinambungan”. Yang mana ini dimulai dari rasa tanggung jawab anda terhadap hasil kerja anda sehari-hari baik internal (sesama karyawan) atau external (customer/client).
Jadi biasakanlah untuk selalu bertanggung jawab terhadap hasil kerja anda. Lakukanlah tiap hari baik dikantor terhadap sesama karyawan, terhadap bawahan, terhadap atasan atau bahkan dirumah terhadap keluarga anda. Niscaya anda mendapat keharmonisan dikantor maupun dirumah.

Raja Cheng Tang Memohon Hujan  

Posted by Cahaya Kebijaksanaan

Siapakah Raja Cheng Tang ini? Dia adalah seorang raja pada zaman Tiongkok kuno, adalah seorang raja yang mendirikan negara pada masa dinasti Shang (Kira-kira abad ke-16—11 SM), dia adalah raja yang memimpin dengan bijaksana, yang mencintai rakyat layaknya anak sendiri, dan dialah yang memimpin pasukan menggulingkan raja lalim Xia Jie terakhir dinasti Xia.

Sejak itu, rakyat hidup aman sentosa. Namun, tidak lama kemudian, negerinya mengalami bencana kekeringan yang sangat panjang, lama sekali tidak turun hujan, sungguh kekeringan yang belum pernah terjadi selama ini, sehelai rumput pun tidak tumbuh dil adang, tidak ada makanan. Orang mengganjal perut dengan hanya memakan akar rumput atau kulit pohon. Air di danau, sungai atau sumur perlahan-lahan mengering hingga ke dasar, setiap hari disinari dengan panas matahari yang terik, nyaris menguapkan batu di palung sungai. Namun, kala itu orang-orang tak berdaya, hanya bisa berbaris panjang, sepanjang hari dan malam, memukul genderang, mengadakan upacara dan sembahyang kepada Langit Dewata, dengan maksud menggugah Sang Pencipta.

Sampai tujuh tahun berlalu sudah, namun tidak tampak sedikit pun bayangan akan turun hujan. Kala itu, raja sangat gelisah, sedih dan iba melihat orang-orang yang menderita karena kekeringan, tapi dia tak berdaya sedikit pun, dia hanya bisa mengirim lebih banyak orang dan memperluas barisan memohon hujan, namun, semua itu sia-sia, tiada tanda akan hujan.

Suatu hari, seorang ahli nujum istana yang bernama Bu Guan, telah meramal masalah memohon hujan, kemudian peramal istana segera melapor pada raja: “Untuk memohon hujan harus menyelenggarakan sembahyang kepada Langit Dewata dari jiwa manusia, baru bisa turun hujan.” Artinya harus mengorbankan jiwa manusia untuk sembahyang kepada Langit Dewata, kening raja berkerut setelah mendengar penuturan peramal istana dan berkata: “Memohon hujan sesunguhnya adalah untuk menolong rakyat dari bencana kekeringan, jika karena hal ini dan membunuh manusia, bukankah itu dosa yang amat besar ?” Ia tidak setuju dengan cara demikian. Tapi, ia benar-benar tidak tahu cara lainnya yang lebih baik, ia menarik napas panjang sembari mengatakan: “Jika memang harus mengorbankan manusia, biarlah saya saja.” Lalu raja memutuskan mengorbankan dirinya memohon hujan demi rakyat.

Akhirnya saat mengadakan upacara memohon hujan-pun tiba. Tampak raja Cheng hanya mengenakan pakaian dari kain kasar warna putih, dengan rambut tergerai, dan tubuh terikat dengan seutas tali putih pemercik api. Duduk di sebuah kereta putih, ditarik oleh dua ekor kuda, menuju ke hutan murbei dewa bumi. Orang-orang yang mengiringi mengangkat bejana berkaki tiga, menyandang bendera, berjalan ke depan sambil memainkan musik yang sedih, kereta raja Cheng berjalan perlahan mengikuti dari belakang, sepanjang jalan para pendeta membacakan doa-doa khusus untuk upacara memohon hujan, pemandangan seperti itu tampak begitu memilukan. Tidak lama kemudian mereka tiba di hutan murbei, disini adalah sebuah tempat yang hanya akan dipakai dalam upacara sembahyang besar-besaran. Ketika rombongan raja Cheng tiba, di sana sudah di penuhi dengan lautan manusia. Di depan altar sudah di penuhi dengan tumpukan kayu bakar, dengan lidah api yang menyala-nyala di altar sembahyang, beberapa pendeta tengah mempersiapkan berbagai macam pekerjaan sebelum memanjatkan doa memohon hujan.

Begitu tiba saatnya, raja Cheng dipapah beberapa pendeta, dan perlahan-lahan turun dari kereta menuju ke altar. Berlutut di depan altar, lalu dengan tulus dan khitmat memajatkan doa pada dewata: “Saya adalah raja, pemimpin rakyat negeri ini, biarlah segala dosa dan kesalahan saya yang tanggung, tapi saya mohon jangan limpahkan kepada rakyat… “ Saat itu, maha guru yang memimpin upacara memohon raja maju ke depan, mengambil sebuah gunting dari balik jubahnya, lalu dengan cekatan memotog rambut dan kuku raja Cheng yang panjang, kemudian diletakkan di altar sembahyang dan membakarnya.

Setelah itu, dengan dipapah oleh 2 pendeta, raja Cheng dibawa ke tumpukan kayu bakar yang tinggi. Raja Cheng tersenyum sambil menundukkan kepalanya, sedikit pun tidak tampak takut, malah dengan khitmad berdiri di sana, khusus menanti datangnya detik-detik itu, yang mana kemudian kayu bakar di sekelilingnya itu akan dinyalakan oleh pendeta.

Ini adalah pemandangan yang sangat memilukan: matahari yang terik di puncak kepala, membakar seisi jagad raya. Tidak ada setitik pun mega di sekitar, hanya semilir angin yang meniup lembut di muka raja Cheng, ribuan rakyat jelata berdesakan di sekeliling hutan murbei. Mereka semua merasa ngeri melihat raja yang arif dan bijaksana yang mereka cintai itu. Akhirnya detik-detik itu pun tiba, suara yang memilukan bergema di telinga mereka, mencengkam sanubari semua orang. Para pendeta telah menyalakan api di altar, berkobar menyala-nyala di sekeliling tumpukan kayu bakar, dan kini tinggal menunggu perintah pimpinan pendeta.

Akhirnya para pendeta meletakkan abor di tangan mereka. Dan sesaat itu, lidah api menggulung nyala api, dan terus menjalar ke tumpukan kayu bakar, dari kejauhan tampak percikan api yang menyala-nyala telah mengepung raja Cheng yang berdiri di tumpukan kayu bakar tinggi dengan cucuran keringat, tali pemercik api yang terikat di tubuhnya sudah hampir terbakar.

Tepat di saat yang kritis itu, tiba-tiba terjadilah keajaiban: sebersit angin kencang disertai dengan gumpalan awan hitam, bergulung-gulung dengan cepat dari timur laut menuju ke hutan murbei. Dan dalam sekejab menyelimuti angkasa yang tadinya panas dan terik oleh sinar mentari.

Dan seketika itu juga titik hujan sebesar kacang kedelai turun dengan lebat, menyusul dengan kilatan petir di angkasa, dan hujan turun semakin deras. Orang-orang yang selama ini mengharapkan turunnya hujan bukan main gembiranya, mereka meloncat-loncat dan bersorak gembira, menelentangkan leher mengangakan mulut menyambut air hujan, membasahkan kerongkongan yang selama ini kering, bahkan meraup air dan memukul dahi sendiri, menyatakan terima kasih.

Saat itu, raja Cheng yang berada di tumpukan kayu bakar juga menengadahkan kepalanya, menatap angkasa. Kening yang berkerut selama ini akhirnya terentang, dari lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat bersyukur atas rahmat Tuhan dan berterimakasih kepada rakyatnya. Adalah ketulusan hatinya yang hendak menyelamatkan rakyatnya itulah yang telah menggugah Langit Dewata. Awan yang bergumpal-gumpal di sekeliling terus mendekati bumi. Dan akhirnya kekeringan selama 7 tahun itupun hilang tak berbekas saat itu juga.

Api yang berkobar di sekeliling tumpukan kayu bakar dan di altar persembahan sudah padam diguyur hujan. Semua orang bernyanyi gembira di tengah hujan, beberapa pendeta naik ke atas memapah raja bijaksana yang mencintai rakyatnya seperti anak sendiri dan yang rela berkorban memohon hujan demi rakyat yang dicintainya.

Hikmah yang dapat diambil dari cerita ini adalah merupakan contoh teladan bagi seorang pemimpin (raja, presiden atau bahkan seorang ketua kelas). Seorang pemimpin akan selalu berada pada barisan terdepan untuk mengayomi dan melindungi rakyatnya. Pada saat mengalami kesusahan pemimpin akan berada di depan dan jika mengalami kesenangan pemimpin berada di belakang. Jika harus lapar, pemimpin rela lebih dahulu lapar dan jika kenyang dia rela untuk mendapatkannya paling akhir. Begitu selayaknya menjadi pemimpin.

(Sumber Minghui School)